Minggu, 22 Agustus 2021
Sabtu, 26 Juni 2021
Rabu, 24 Maret 2021
Senin, 22 Maret 2021
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial Emosional
Pembelajaran Berdiferensiasi
Pembelajaran
berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense)
yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.
Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:
1. Bagaimana
mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi.
Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada
dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
2. Kurikulum
yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi
bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga
muridnya.
3. Penilaian
berkelanjutan. Bagaimana
guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian
formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih
ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan
belajar yang ditetapkan.
4. Bagaimana
guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana
ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar
murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara
yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
5. Manajemen
kelas yang efektif. Bagaimana
guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya
fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin
melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
Memetakan Kebutuhan
Belajar Murid
Tomlinson
(2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction
in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan
kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek.
Ketiga aspek
tersebut adalah:
1.
Kesiapan
belajar (readiness) murid
2.
Minat
murid
3.
Profil
belajar murid
Sebagai guru,
kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika
tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka
miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu
keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu
memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai
(profil belajar).
Pembelajaran
Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif
seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang
dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap
positif mengenai aspek sosial dan emosional. Pembelajaran sosial dan emosional
bertujuan untuk:
- memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi
- menetapkan dan mencapai tujuan positif
- merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain
- membangun dan mempertahankan hubungan yang positif serta
- membuat keputusan yang bertanggung jawab.
Pembelajaran
sosial dan emosional dapat diberikan dalam tiga ruang lingkup:
Rutin: pada saat kondisi yang sudah ditentukan di luar waktu belajar akademik, misalnya kegiatan lingkaran pagi (circle time), kegiatan membaca setelah jam makan siang
Terintegrasi
dalam mata pelajaran: misalnya melakukan refleksi setelah menyelesaikan sebuah
topik pembelajaran, membuat diskusi
kasus atau kerja kelompok untuk memecahkan masalah, dll.
Protokol:
menjadi budaya atau aturan sekolah
yang sudah menjadi kesepakatan bersama
dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau
sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu.
Misalnya, menyelesaikan konflik yang terjadi
dengan membicarakannya tanpa kekerasan,
mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, dll.
Lima kompetensi sosial-emosional yaitu kesadaran diri,
pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan sosial dan pengambilan
keputusan yang bertanggung jawab.
Selasa, 26 Januari 2021
Kamis, 10 Desember 2020
Rabu, 25 November 2020
Jumat, 13 November 2020
Nilai dan Peran Pendidik serta Sekolah, Upaya Mewujudkan Murid Merdeka Selamat dan Bahagia
Pendidikan adalah proses mendidik yang melibatkan penerapan nilai-nilai. Pengajaran adalah proses belajar atau proses menuntut ilmu yang hasilnya murid menjadi pandai, dan berilmu pengetahuan.
Ada tiga poin penting yang tidak dapat dipisahkan satu
dengan lainnya:
1.
Pendidikan pendidikan itu hanya
"tuntunan" di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Artinya, bahwa hidup
tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik.
2.
Jika pendidikan itu sebagai tuntunan maka kita
sebagai pendidik berperan sebagai penuntun, fasilitator, memberikan motivasi.
3.
Kodrat murid sebagai anak dapat terpenuhi.
Kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itulah yang menjadi motivasi intrinsik
anak-anak tersebut untuk tumbuh dan berkembang, sehingga tercapai tujuan yakni
agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya
baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat
Peran sekolah sebagai
tempat penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran harus melaksanakan program
yang sesuai dengan kodrat keadaan murid. Jika sekolah Memahami kodrat murid
sebagai motivasi intrinsik belajar mereka, berarti sekolah harus
menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang berpusat pada murid. Pendidikan
dan pengajaran yang berupaya memenuhi tumbuh kembang anak, mengakomodir
perbedaan individual anak dan mengembangkan program yang dapat menggali potensi
yang dimiliki oleh anak.
Pendidik sebagai
penuntun hendaknya tidak hanya berorientasi pada nilai kognitif saja. Sebagai
pendidik juga tidak seharusnya berpikir bahwa anak adalah kertas kosong yang
dapat ditulis sesuai keinginan kita, tapi berupaya untuk memenuhi kodrat
mereka. Untuk dapat melakukan hal-hal tersebut sebagai pendidik harus
mengembangkan nilai-nilai dalam diri masing-masing yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif,
inovatif, serta perpihak pada murid.
Sebagai contoh seorang
pendidik harus dapat mengikuti perkembangan teknologi dan memanfaatkannya dalam
inovasi pembelajaran. Dengan adanya kemajuan teknologi seperti sekarang,
pendidik harus mampu mengantisipasi perubahan, agar tidak ketinggalan dari
begitu pesatnya kecanggihan tekonologi. Pemanfaatan teknologi informasi dalam
kegiatan belajar mengajar secara tepat diharapkan akan mampu membuat proses
pembelajaran lebih bermakna, mengingat berbagai potensi teknologi informasi
untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.
Apabila sekolah sudah
bukan menjadi tempat menakutkan bagi murid-murid maka meraka akan merasa aman
dan nyaman serta akan merasa merdeka dalam menjalani peran sebagai pelajar.
Didukung lagi dengan keberadaan pendidik yang memiliki nilai dan peran positif
dalam pembelajaran. Murid dengan karakter beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berahlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebinekaan global,
bergotong royong, dan kreatif akan terwujud. Apa yang kita cita-citakan bersama
yaitu murid yang merdeka, selamat dan bahagia baik sebagai manusia maupun
sebagai anggota masyarakat akan tercapai.













