Tampilkan postingan dengan label Guru Penggerak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru Penggerak. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Maret 2021

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial Emosional

 Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

1.  Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk  belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.

2.   Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.

3.   Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

4.     Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.

5.     Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.


Memetakan Kebutuhan Belajar Murid

Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. 

Ketiga aspek tersebut adalah:

1.       Kesiapan belajar (readiness) murid

2.       Minat murid

3.       Profil belajar murid

Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).



Diagram Frayer Pembelajaran Berdiferensiasi


Pembelajaran Sosial dan Emosional 

Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan untuk:

  1. memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi
  2. menetapkan dan mencapai tujuan positif
  3. merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain
  4. membangun dan mempertahankan hubungan yang positif serta
  5. membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Pembelajaran sosial dan emosional dapat diberikan dalam tiga ruang lingkup:

Rutin:  pada saat kondisi yang sudah ditentukan di luar waktu belajar akademik, misalnya kegiatan lingkaran pagi (circle time), kegiatan membaca  setelah jam makan siang

Terintegrasi dalam mata pelajaran: misalnya melakukan refleksi setelah menyelesaikan sebuah topik pembelajaran, membuat diskusi  kasus atau kerja kelompok untuk memecahkan masalah, dll.

Protokol: menjadi budaya atau aturan  sekolah yang  sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau  sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu. Misalnya, menyelesaikan konflik  yang terjadi dengan membicarakannya tanpa kekerasan,  mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, dll.

Lima kompetensi sosial-emosional yaitu kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan sosial dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Berikut merupakan contoh RPP Berdiferensiasi dan Sosial Emosional. Silahkan klik di sini.

Semoga Bermanfaat.


Sumber: Modul Calon Guru Penggerak Angkatan 1

Jumat, 13 November 2020

Nilai dan Peran Pendidik serta Sekolah, Upaya Mewujudkan Murid Merdeka Selamat dan Bahagia

Pendidikan adalah proses mendidik yang melibatkan penerapan nilai-nilai. Pengajaran adalah proses belajar atau proses menuntut ilmu yang hasilnya murid menjadi pandai, dan berilmu pengetahuan.


Ada tiga poin penting yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya:

1.  Pendidikan pendidikan itu hanya "tuntunan" di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Artinya, bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik.

2.  Jika pendidikan itu sebagai tuntunan maka kita sebagai pendidik berperan sebagai penuntun, fasilitator, memberikan motivasi.

3.  Kodrat murid sebagai anak dapat terpenuhi. Kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itulah yang menjadi motivasi intrinsik anak-anak tersebut untuk tumbuh dan berkembang, sehingga tercapai tujuan yakni agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat

 

Peran sekolah sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran harus melaksanakan program yang sesuai dengan kodrat keadaan murid. Jika sekolah Memahami kodrat murid sebagai motivasi intrinsik belajar mereka, berarti sekolah harus menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang berpusat pada murid. Pendidikan dan pengajaran yang berupaya memenuhi tumbuh kembang anak, mengakomodir perbedaan individual anak dan mengembangkan program yang dapat menggali potensi yang dimiliki oleh anak.

 

Pendidik sebagai penuntun hendaknya tidak hanya berorientasi pada nilai kognitif saja. Sebagai pendidik juga tidak seharusnya berpikir bahwa anak adalah kertas kosong yang dapat ditulis sesuai keinginan kita, tapi berupaya untuk memenuhi kodrat mereka. Untuk dapat melakukan hal-hal tersebut sebagai pendidik harus mengembangkan nilai-nilai dalam diri masing-masing yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta perpihak pada murid.

 

Sebagai contoh seorang pendidik harus dapat mengikuti perkembangan teknologi dan memanfaatkannya dalam inovasi pembelajaran. Dengan adanya kemajuan teknologi seperti sekarang, pendidik harus mampu mengantisipasi perubahan, agar tidak ketinggalan dari begitu pesatnya kecanggihan tekonologi. Pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan belajar mengajar secara tepat diharapkan akan mampu membuat proses pembelajaran lebih bermakna, mengingat berbagai potensi teknologi informasi untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.

 

Apabila sekolah sudah bukan menjadi tempat menakutkan bagi murid-murid maka meraka akan merasa aman dan nyaman serta akan merasa merdeka dalam menjalani peran sebagai pelajar. Didukung lagi dengan keberadaan pendidik yang memiliki nilai dan peran positif dalam pembelajaran. Murid dengan karakter beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebinekaan global, bergotong royong, dan kreatif akan terwujud. Apa yang kita cita-citakan bersama yaitu murid yang merdeka, selamat dan bahagia baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat akan tercapai.

Sabtu, 07 November 2020

Info Grafis Nilai dan Peran Guru Penggerak

 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam dan Bahagia

Infografis berikut merupakan hasil elaborasi pemahaman saya tentang nilai dan peran seorang guru penggerak. Semoga dapat bermanfaat dan menginspirasi guru-guru hebat Indonesia.

Nilai dan Peran Guru Penggerak

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.